Senin, 18 Maret 2013

Obstetri - Problematika Trimester Awal

Diposting oleh Fildzah Ghaisani di 06.11 0 komentar

PROBLEMATIKA KEHAMILAN TRIMESTER AWAL
Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok yang diberikan oleh
dr. Irawan, SpOG
selaku dosen mata kuliah Mulok Obstetri tingkat I pada semester II
tahun ajaran 2012-2013




Disusun oleh :

Kelompok 3 Obstetri I


Jalum D. III Kebidanan Kelas B (Anggrek Bulan)        

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
PROGRAM STUDI KEBIDANAN CIREBON
Jalan Pemuda 38 Telp. (0231) 203556, 200277 Kota Cirebon
2012-2013





BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Kehamilan terbagi dalam tiga trimester. Trimester pertama adalah 12 minggu sejak hari pertama wanita terakhir menstruasi. Bagi kebanyakan calon ibu, ini adalah masa-masa yang menggembirakan, mendebarkan, sekaligus penuh keingintahuan. Begitu banyak perubahan pada diri calon ibu sejak terjadinya konsepsi: janin berkembang pesat dan tubuh sang ibu juga mulai menyesuaikan diri dengan kehamilan.

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang dan di negara miskin. Sekitar 20-50% kematian wanita usia subur disebabkan oleh kehamilan. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi dan eklamsi. Ibu hamil trimester pertama perlu mendapatkan pengetahuan yang tepat karena trimester pertama sangat rentan membawa risiko tertinggi keguguran. Trimester pertama merupakan saat yang rawan bagi perkembangan janin, karena banyak wanita tidak menduga kalau dirinya sedang hamil. Kehamilan baru diketahui ketika janin sudah menginjak waktu lebih dari satu bulan. Sementara itu jika mereka tidak sadar sedang hamil, mereka akan mengkonsumsi berbagai macam makanan dan obat yang bisa merusak perkembangan janin dalam kandungan. Karena itulah janin pada umur 1-3 bulan ini sangat rentan keguguran. Selain rentan keguguran, ibu hamil trimester pertama juga banyak mengalami masalah-masalah yang dapat mengganggu kehamilannya yang membahayakan ibu serta janinnya.

Kehamilan dan persalinan adalah proses yang normal dan alamiah, tetapi tidak menutup kemungkinan akan timbul berbagai  masalah. Oleh karena itu, dibutuhkan pemantapan kesejahteraan janin, serta persiapan persalinan dan kelahiran yang matang. Orang-orang disekitarnya seperti bidan dan keluarga harus turut serta menjaga kesejahteraan janin maupun ibu agar ibu termotivasi dan optimis akan kehamilannya. Dengan demikian ibu hamil perlu mengatahui problematika kehamilan pada trimester pertama agar mereka dapat menjaga kehamilannya dengan baik.

1.2    Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimanakah problematika yang terjadi pada trimester awal?
1.2.2        Bagaimanakah cara penanganan problematika yang terjadi pada trimester awal?

1.3    Tujuan Penulisan
1.3.1        Mengetahui problematika yang terjadi pada trimester awal.
1.3.2        Mengetahui cara penanganan problematika pada trimester awal.

1.4    Manfaat Penulisan
1.4.1   Agar kita sebagai calon bidan dapat mengetahui problematika yang terjadi pada ibu hamil trimester awal.
1.4.2   Agar kita sebagai calon bidan dapat melakukan penanganan yang cepat dan tepat.
1.4.3   Agar kita memahami asuhan kebidanan pada ibu dengan kehamilan trimester pertama.





BAB II
PROBLEMATIKA KEHAMILAN TRIMESTER AWAL

2.1    Pengertian Kehamilan Trimester Pertama

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan. Kehamilan matur berlangsung kurang lebih 40 minggu dan tidak boleh lebih dari 42 minggu (Wiknojosastro, 1996).
Menurut Federasi Obstetri dan Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum kemudian dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu (10 bulan atau 9 bulan) menurut kalender internasional.
Kehamilan dibagi dalam tiga trimester, dimana trimester pertama berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27) dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40).
Kehamilan trimester pertama adalah usia kehamilan dari minggu pertama sampai ke-12, yang ditandai oleh beberapa  hal seperti mual, muntah yang terjadi karena perubahan dalam tubuh yang terjadi selama hamil, nyeri pada payudara biasanya disebabkan oleh membesarnya payudara ibu karena berkembangnya kelenjar susu dan pasokan darah meningkat, flek yang terlihat seperti menstruasi karena darah yang dilepas saat telur dibuahi melekatkan diri ke dinding rahim.
Menurut Kusmiyati dkk, 2008, kehamilan merupakan hal  yang  fisiologis. Namun kehamilan yang normal dapat berubah menjadi  patologi. Salah satu asuhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk menapis adanya risiko ini yaitu melakukan pendeteksian dini adanya komplikasi atau penyakit yang mungkin terjadi selama hamil muda. Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah gejala yang menunjukkan bahwa ibu dan bayi dalam keadaan bahaya.

2.2    Problematika yang Terjadi pada Kehamilan Trimester Awal

A.       Abortus
Abortus adalah penghentian atau pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan 16 minggu atau sebelum plasenta selesai atau merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
a.    Macam-macam abortus
1.        Abortus spontan
Abortus yang terjadi secara alamiah tanpa interval luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut seperti keguguran. Abortus spontan merupakan hasil yang tidak dikehendaki pada 15%-40% dari semua kehamilan yang diketahui. Semakin muda kehamilan, semakin mungkin terjadi abortus. Sekitar 75% abortus terjadi sebelum umur 16 minggu, dan kira-kira 60% terjadi sebelum 12 minggu.
Penanganannya: lakukan penilaian awal untuk segera menentukan kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat, atau masih cukup stabil), segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan tindakan lanjutan (evaluasi medik atau merujuk), temukan dan hentikan dengan segera sumber perdarahan, lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan lanjutan (sarwono, 2001: 145)

2.        Abortus provokatus (induced abortion)
Abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus provokatus dibagi menjadi 2 yaitu:
a)        Abortus medicinalis
Abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis) biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli yaitu spesialis kebidanan dan kandungan, spesialis penyakit dalam dan spesialis jiwa.
Pada kehamilan muda (dibawah 12 minggu) dapat dilakukan pemberian prostaglandin atau dengan kuret. Pada hamil tua (diatas 12 minggu) dilakukan histerotomi juga dapat disuntikkan garam hipertonis (20%) atau prostaglandin intra-amnial.
b)        Abortus kriminalis
Abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

3.        Abortus inkompletus (keguguran bersisa atau keguguran tidak lengkap)
Hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta. Penanganannya: bila ada tanda-tanda syok atasi dulu dengan pemberian  cairan dan tranfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan kuretase. Setelah itu beri obat-obatan uterotonika dan antibiotika. Bila terjadi perdarahan yang hebat, dianjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan, kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti. Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase secara hati-hati sesuai dengan keadaan umum ibu dan besarnya uterus.

4.        Abortus insipiens (keguguran sedang berlangsung)
Abortus yang sedang berlangsung ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri sudah terbuka serta ketuban yang teraba, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran. kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi. Penanganannya: segera lakukan tindakan evakuasi / pengeluaran hasil konsepsi disusul dengat kuretase bila perdarahan banyak. Pascatindakan perlu perbaikan keadaan umum kemudian berikan uterotonika dan antibiotika profilaksis.

5.        Abortus kompletus (keguguran lengkap)
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri, ostium uteri menutup, uterus sudah mengecil sehingga perdarahan sedikit. Penanganannya: penderita tidak perlu tindakan khusus ataupun pengobatan. Biasanya hanya diberikan roboransia atau hematenik bila keadaan pasien memerlukan.

6.        Abortus imminens (keguguran mengancam)
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus. Abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan mempertahankannya. Abortus imminens mengacu ke perdarahan intrauterin pada umur <20 minggu kehamilan lengkap dengan atau tanpa kontraksi uterus. Ditandai dengan perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. Biasanya penderita mengeluh mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan pervaginam. Penanganannya : pemeriksaan USG perlu dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan janin yang ada dan mengetahui keadaan plasenta apakah sudah terjadi pelepasan atau belum. Selain itu, ultrasonografi harus memperlihatkan adanya janin yang menunjukan tanda-tanda kehidupan (misal, denyut jantung atau gerakan). Pada abortus imminens, hasil kehamilan yang belum viabel berada dalam bahaya tetapi kehamilan terus berlanjut.
Penderita diminta untuk melakukan tirah baring sampai perdarahan berhenti. Bisa diberi spasmolitik agar uterus tidak berkontaksi atau diberi tambahan hormon progesteron untuk mencegah terjadinya abortus.

7.      Abortus habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk menjadi hamil kembali, tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran/abortus secara berturut-turut.
Penyebab abortus habitualis yang paling mungkin adalah kelainan genetik, kelainan anatomis saluran reproduksi, kelainan hormonal, infeksi, kelainan faktor imunologis atau penyakit sistemik. Salah satu penyebab  yang sering dijumpai ialah inkompetensia serviks yaitu keadaan dimana serviks uterus tidak dapat menerima beban untuk tetap bertahan menutup setelah kehamilan melewati trimester pertama, dimana ostium serviks akan membuka tanpa disertai rasa mules/kontraksi rahim dan akhirnya terjadi pengeluaran janin.

8.    Missed abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan. Penderita missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan apapun, kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang diharapkan.
Penanganannya: berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan kuretase. Hendaknya juga diberikan uterotonika dan antibiotika. (Mohctar, 1998 : 211-212)

B.       Mola Hidatidosa (Kehamilan Mola)
Yang dimaksud dengan mola hidatidosa ialah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar, dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik. Secara makroskopik, mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter sampai 1 atau 2 cm. Gambaran histopatologik yang khas dari mola hidatidosa ialah edema stroma vili, tidak ada pembuluh darah pada vili/degenerasi hidropik dan poliferasi sel-sel trofoblas.

a.    Gejala-gejala dan Tanda
Pada permulaannya gejala kehamilan mola atau mola hidatidosa tidak berbeda dengan kehamilan biasa, yaitu mual, muntah, pusing dan lain-lain, hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat. Selanjutnya, perkembangan lebih pesat, sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari umur kehamilan. Ada pula kasus-kasus yang uterusnya lebih kecil atau sama besar walaupun jaringannya belum dikeluarkan.
Perdarahan merupakan gejala utama kehamilan mola. Gejala perdarahan ini biasanya terjadi antara bulan pertama sampai ke tujuh dengan rata-rata 12-14 minggu. Sifat perdarahan bisa intermiten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian.
Seperti juga pada kehamilan  biasa, mola hidatidosa bisa disertai dengan preeklampsia (eklampsia), hanya perbedaannya adalah bahwa preeklampsia pada mola terjadinya lebih muda daripada kehamialn biasa.

b.    Diagnosis
Adanya mola hidatidosa harus dicurigai bila ada perempuan dengan amenorea, perdarahan pervaginam, uterus yang lebih besar dari umur kehamilan dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti seperti balotemen dan detak jantung janin. Untuk memperkuat diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan kadar hCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam darah atau urin. Bila belum jelas dapat dilakukan pemeriksaan USG, dimana kasus mola menunjukkan gambaran yang khas, yaitu berupa badai salju (snow flake pattern) atau gambaran seperti sarang lebah (honey comb).
Diagnosis yang paling tepat bila kita telah melihat keluarnya gelembung mola. Namun, bila kita menunggu sampai gelembung mola keluar biasanya sudah terlambat, karena pengeluaran gelembung umumnya disertai perdarahan yang banyak dan keadaan umum pasien menurun. Terbaik ialah bila dapat mendiagnosis mola sebelum keluar.

c.    Pengelolaan Mola Hidatidosa

1.      Perbaikan Keadaan Umum
Yang termasuk usaha ini misalnya pemberian tranfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia dan menghilangkan atau mengurangi penyulit seperti preeklampsia atau tirotoksikosis.


2.      Pengeluaran Jaringan Mola
a.       Vakum Kuretase
Setelah keadaan umum diperbaiki dilakukan vakum kuretase tanpa pembiusan. Untuk memperbaiki kontraksi diberikan pula uterotonika. Vakum kuretase dilanjutkan dengan kuretase, dengan menggunakan sendok kuret biasa yang tumpul.

b.      Histerektomi
Tindakan ini dilakukan pada perempuan yang telah cukup umur dan cukup mempunyai anak. Alasan untuk melakukan histerektomi ialah karena umur sudah tua dan paritas tinggi merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya keganasan.

3.          Pemeriksaan Tindak Lanjut
Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa. Test hCG harus mencapai nilai normal 8 minggu setelah evaluasi. Lama pengawasan berkisar satu tahun. Untuk tidak mengacaukan pemeriksaan selama periode ini, pasien dianjurkan untuk tidak hamil dulu dengan menggunakan alat kontrasepsi pantang berkala.

d.    Prognosis
Kematian pada kehamilan mola atau mola hidatidosa disebabkan oleh perdarahan, infeksi, payah jantung atau tirotoksikosis. Bila terjadi keganasan, maka pengelolaan secara khusus pada divisi Onkologi Ginekologi.

C.       Hiperemesis Gravidarum
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester 1. Mual biasa terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini terjadi kurang lebih 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu.
Hiperemesis gravidarum adalah mual atau muntah yang berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat  membahayakan hidup ibu hamil. Faktor yang dapat menimbulkan hiperemesis gravidarum adalah: primigravida, overdistensi rahim (hidramnion, hamil gemeli, estrogen, dan hCG tinggi, mola hidatidosa); kemungkinan vili korealis masuk dalam darah, faktor alergi, dan faktor psikologis (rumah tangga retak, hamil yang tidak diinginkan, takut hamil).

Gejala Hiperemesis Gravidarum
Tingkatan
Gejala
I
a.   Mual dan muntah terus menerus dan mempengaruhi keadaan umum (dehidrasi, turgor kulit, berkurang dan lidah kering)
b.  Tekanan darah turun, frekuensi nadi meningkat, dan dapat disertai suhu naik.
c.   Nyeri epigastrium (iritasi asam lambung).
II
a.   Dehidrasi bertambah (turgor kulit makin berkurang, lidah kering dan kotor, berat badan turun, mata cekung.
b.   Peredaran darah (nadi cepat, tekanan darah turun, terjadi hemokonsentrasi, oliguria, obstipasi.
c.   Metabolisme (anaerobik dalam pemecahan lemak menimbulkan keadaan keton (dalam napas dan urine), gangguan fungsi hati (terjadi ikterus)).
III
a.   Dehidrasi makin berat
b.   Mual dan muntah berhenti
c.   Terjadi perubahan dari esofagus, lambung dan retina
d.  Gangguan fungsi hati bertambah, ikterus meningkat
e.   Gangguan kesadaran (somnolen sampai koma)
f.    Gangguan saraf (ensefalopati Wernick, nistagmus, diplopia, perubahan mental)

a.        Penanganan Hiperemesis Gravidarum:
1.        Makan sedikit tapi sering.
2.        Hindari makanan yang sulit dicerna dan berlemak.
3.        Jaga masukan cairan, karena cairan lebih mudah ditolerir daripada makanan padat.
4.        Selingi makanan berkuah dengan makanan kering. Makan hanya makanan kering pada satu waktu makan, kemudian makanan berkuah pada waktu berikutnya.
5.        Hindari hal-hal yang memicu mual, seperti bau, gerakan atau bunyi.
6.        Istirahat cukup
7.        Hindari hal-hal yang membuat anda berkeringat atau kepanasan yang dapat memicu rasa mual.

b.        Komplikasi
Jika mual terus menerus bisa terjadi kerusakan hati. Komplikasi lainnya adalah perdarahan pada retina yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah ketika penderita muntah.

D.       Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telurnya telah dibuahi namun tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri. Lebih dari 95% kehamilan ektopik berada di saluran telur (tuba fallopii).
Kejadian kehamilan ektopik tidak sama diantara senter pelayanan kesehatan. Hal ini bergantung pada kejadian salpingitis seseorang. Di Indonesia kejadian sekitar 5-6 per seribu kehamilan. Patofisiologi terjadinya kehamilan ektopik tersering karena sel telur sudah dibuahi dalam perjalanannya menuju endometrium tersendat sehingga embrio sudah berkembang sebelum mencapai kavum uteri dan akibatnya akan tumbuh diluar rongga rahim. Bila kemudian tempat nidasi tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan besarnya buah kehamilan, akan terjadi ruptura dan menjadi kehamilan ektopik yang terganggu.
Berdasarkan lokasi terjadinya, kehamilan ektopik dapat dibagi menjadi 5 berikut ini.
1.        Kehamilan tuba, meliputi >95 % yang terdiri atas:
Pars ampularis (55 %), pars ismika (25 %), pars fimbriae (17 %), dan pars interstisialis (2 %).
2.        Kehamilan ektopik lain (<5 %) antara lain terjadi di serviks uterus, ovarium, atau abdominal. Untuk abdominal lebih sering merupakan kehamilan tuba yang kemudian abortus dan meluncur ke abdomen dari ostium tuba pars abdominalis (abortus tubaria) yang kemudian embrio/buah kehamilannya mengalami reimplantasi di kavum abdomen, misalnya di mesenterium/mesovarium atau diomentum.
3.        Kehamilan intraligamenter, jumlahnya sangat sedikit.
4.        Kehamilan heterotopik, merupakan kehamilan ganda di mana satu janin berada di kavum uteri sedangkan yang lain merupakan kehamilan ektopik. Kejadian sekitar satu per 15.000-40.000 kehamilan.
5.        Kehamilan ektopik bilateral, kehamilan ini pernah dilaporkan walaupun sangat jarang terjadi.

a.    Etiologi
Etiologi kehamilan ektopik sudah banyak disebutkan karena secara patofisiologi mudah dimengerti sesuai dengan proses awal kehamilan sejak pembuahan sampai nidasi. Jika nidasi terjadi di luar kavum uteri atau di luar endometrium, maka terjadilah kehamilan ektopik. Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam nidasi embrio ke endrometrium menjadi penyebab terjadinya kehamilan ektopik ini. Faktor-faktor yang disebutkan adalah sebagai berikut:

a.    Faktor tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan lumen tuba menyempit atau buntu.
Keadaan uterus yang mengalami hipoplasia atau saluran tuba yang berkelok-kelok panjang dan dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak berfungsi dengan baik. Juga pada keadaan pascaoperasi rekanalisasi tuba dapat merupakan predisposisi terjadinya kehamilan ektopik. Faktor tuba yang bersifat kongenital.
Adanya tumor disekitar saluran tuba, misalnya mioma uteri atau tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk dan petensi tuba, juga dapat menjadi etiologi kehamilan ektopik.

b.    Faktor abnormalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran besar, maka zigot akan tersendat dalam perjalanan pada saat melalui tuba, kemudian terhenti dan tumbuh melalui saluran tuba.
c.       Faktor ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba yang kontralateral, dapat membutuhkan proses khusus atau waktu yang lebih panjang sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik lebih besar.

d.      Faktor hormonal
Pada akseptor, pil KB yang hanya mengandung progesteron dapat mengakibatkan gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik.

e.       Faktor lain
Termasuk di sini antara lain pemakai IUD di mana proses peradangan yang dapat timbul pada endometrium dan endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik. Faktor umur penderita yang sudah menua dan faktor perokok juga sering dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.

b.   Patologi
Pada proses awal kehamilan apabila embrio tidak bisa mencapai endometrium untuk proses nidasi, maka embrio dapat tumbuh disaluran tuba dan kemudian akan mengalami beberapa proses seperti pada kehamilan pada umumnya. Karena tuba bukan merupakan suatu media yang baik untuk pertumbuhan embrio, maka pertumbuhan dapat mengalami beberapa perubahan dalam bentuk berikut ini:
1.    Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh apa-apa, hanya haidnya terlambat untuk beberapa hari.
2.      Abortus ke dalam lumen tuba (Abortus tubaria)
Perdarahan yang terjadi karena pembuluh-pembuluh darah oleh vili korialis pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelapisan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya, bergantung pada derajat perdarahan yang timbul. Bila pelepasan menyeluruh, mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dan kemudian didorong ke arah ostium tuba pars ampularis. Frekuensi abortus dalam tuba bergantung pada implantasi telur yang dibuahi abortus ke lumen tuba sering terjadi pada kehamilan pars apularis, sedangkan penembusan dinding tuba oleh vili korialis kearah peritoneum biasanya terjadi pada kehamilan pars ismika.

3.   Ruptur dinding tuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya, ruptur pada pars interstisialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan vili korialis ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma ringan seperti koitus dan pemeriksaan vagina. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit, kadang-kadang banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian. Bila pseudokapsularis ikut pecah, maka terjadi pula perdarahan dalam lumen tuba. Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba abdominal.
Pada ruptur ke rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi bila robekan tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi di keluarkan dari tuba. Perdarahan dapat berlangsung terus sehingga penderita akan cepat jatuh dalam keadaan anemia atau syok oleh karena hemoragia.  Bila penderita tidak dioperasi dan tidak meninggal karena perdarahan, nasib janin bergantung pada kerusakan yang diderita dan tuanya kehamilan. Bila janin mati dan masih kecil, dapat diresorbsi seluruhnya, bila besar, kelak dapat dirubah menjadi litopedion.

c.    Gambaran klinik
Gambaran klinik kehamilan tuba yang belum terganggu tidak khas dan penderita maupun dokternya, biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan, sampai terjadinya abortus tuba atau ruptur tuba. Pada umumnya penderita menunjukkan gejala-gejala kehamilan muda, dan mungkin merasa nyeri sedikit di perut bagian bawah yang tidak dihiraukan. Pada pemeriksaan vaginal uterus membesar dan lembek walaupun mungkin tidak sebesar tuanya kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar diraba pada pemeriksaan bimanual. Untuk itu setiap ibu yang memeriksakan kehamilan mudanya sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG.
Walau demikian, gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda-beda; dari perdarahan yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas, sehingga sukar dibuat diagnosisnya. Gejala dan tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan dan keadaan umum penderita sebelum hamil.
Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Pada ruptur tuba, nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk ke dalam syok.
Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik yang terganggu. Hal ini menunjukan kematian janin dan barasal dari kavum uteri karena pelepasan desidua.
Amenorea merupakan juga tanda yang penting pada kehamilan ektopik walaupun penderita sering menyebutkan tidak jelasnya ada amenorea, karena gejala dan tanda kehamilan ektopik terganggu bisa langsung terjadi beberapa saat setelah terjadinya nidasi pada saluran tuba yang kemudian disusul dengan ruptur tuba karena tidak bisa menampung pertumbuhan mudigah selanjutnya.

d.   Diagnosis
Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik belum terganggu demikian besarnya, sehingga sebagian besar penderita mengalami abortus tuba atau ruptur tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Bila diduga ada kehamilan ektopik yang belum terganggu, penderita segera dirawat di rumah sakit. Alat bantu untuk diagnostik yang dapat digunakan ialah ultrasonografi, laparoskopi, atau kuldoskopi.
Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak tidak banyak mengalami kesukaran, tetapi pada jenis menahun atau atipik bisa sulit sekali. Untuk mempertajam diagnosis, maka tiap pada perempuan dalam masa reproduksi pada keluhan nyeri perut bagian bawah atau kelainan haid, kemungkinan kelainan ektopik harus dipikirkan. Pada umumnya dengan anamesis yang teliti dan pemeriksaan yang cermat diagnosis dapat ditegakkan, walaupun biasanya alat bantu diagnostik seperti kuldosentesis, ultrasonografi, dan laparoskopi masih diperlukan Anamnesis. Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang-kadang terdapat gejala subjektif kehamilan muda. Nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus, dapat dinyatakan. Perdarahan pervaginam terjadi setelah nyeri perut bagian bawah.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit dapat dilakukan secara serial dengan jarak satu jam selama 3 kali berturut-turut.  Bila ada penurunan hemoglobin dan hematokrit dapat mendukung diagnosis kehamilan ektopik terganggu. Pada kasus ini tidak mendadak biasanya ditemukan anemia: tetapi, harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam.
Perhitungan leukosit secara berturut menunjukkan adanya perdarahan bila leukositosis meningkat. Untuk membedakan kehamilan ektopik dari infeksi pelvik, dapat diperhatikan jumlah leukosit. Jumlah leukosit yang melebihi 20.000 biasanya menunjuk pada keadaan yang terakhir. Tes kehamilan berguna apabila positif. Akan tetapi, tes negatif tidak menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu karena kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas menyebabkan produksi hCG (Human Chorionic Gonadotropin) menurun dan menyebabkan tes negatif.
Diagnosis kehamilan ektopik terganggu sering keliru dengan abortus insipiens atau abortus inkompletus yang kemudian dilakukan kuretase. Bila hasil kuretase meragukan jumlah sisa hasil konsepsinya, maka kita perlu curiga trrjadinya kehamilan ektopik terganggu yang gejala dan tandanya tidak khas. Pada umumnya dilatasi dan kerokan untuk menunjang diagnosis kehamilan ektopik tidak dianjurkan. Berbagai alasan dapat dikemukakan :
a.       Kemungkinan adanya kehamilan dalam uterus bersama kehamilan ektopik.
b.      Hanya 12 sampai 19 % kerokan pada kehamilan ektopik menunjukkan reaksi desidua.
c.       Perubahan endometrium yang berupa reaksi Arias-Stella tidak khas untuk kehamilan ektopik. Namun, jika jaringan yang dikeluarkan bersama dengan perdarahan terdiri atas desidua tanpa vili korialis, hal itu dapat memperkuat diagnosis kehamilan ektopik terganggu.

Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglasi ada darah. Cara ini sangat berguna dalam membantu membuat diagnosis kehamilan ektopik terganggu.
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk kehamilan ektopik apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain meragukan. Melalui prosedur laparoskopik, alat kandungan bagian dalam dapat dinilai. Secara sistematis dinilai keadaan uterus, ovarium, tuba, kavum Douglasi, dan ligamentum latum. Adanya darah dalam rongga pelvis mungkin mempersulit visualisasi alat kandungan, tetapi hal ini menjadi indikasi untuk dilakukan laparotomi.

e.    Pengelolaan Kehamilan Ektopik
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu; kondisi penderita saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ pelvis, kemampuan teknik bedah mikro dokter operator dan kemampuan teknologi fertilisasi invintro setempat. Hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi pada kehamilan tuba, atau dapat dilakukan pembedahan konservatif dalam arti hanya dilakukan salpingostomi atau reanastomosis tuba. Apabila kondisi penderita buruk, misalnya dalam keadaan syok, lebih baik dilakukan salpingektomi.

a.    Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian perempuan menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain.



BAB III
PENUTUP

3.1    Simpulan
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum kemudian dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu (10 bulan atau 9 bulan) menurut kalender internasional.
Kehamilan dibagi dalam tiga trimester, dimana trimester pertama berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27) dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga 40).
Kehamilan trimester pertama adalah usia kehamilan dari minggu pertama sampai ke-12, yang ditandai oleh beberapa  hal sperti mual, muntah yang terjadi karena perubahan dalam tubuh yang terjadi selama hamil, nyeri pada payudara biasanya disebabkan oleh membesarnya payudara ibu karena berkembangnya kelenjar susu dan pasokan darah meningkat, flek yang terlihat seperti menstruasi karena darah yang dilepas saat telur dibuahi melekatkan diri ke dinding rahim.
Pada trimester pertama banyak terjadi gangguan pada kehamilan, seperti perdarahan pervaginam yang diantaranya adalah abortus, mual dan muntah yang berlebihan (hiperemesis gravidarum), kehamilan ektopik dan kehamilan mola (mola hidatidosa).

3.2 Saran
Dengan membaca makalah ini diharapkan kita sebagai calon bidan dapat memberikan penanganan pada saat terjadi masalah kegawatdaruratan pada ibu hamil trimester awal dan juga dapat memberikan informasi yang benar dan tepat pada ibun hamil, tentang bahaya perdarahan dan kondisi bahaya yang lainnya yang sering dialami oleh ibu hamil trimester awal agar ibu hami dapat menjaga kehamilannya dengan baik sehingga tidak terjadi hal yang membahayakan bagi kesehatan ibu dan janinnya.


  


DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Chandranita, dkk. 2008. Gawat-Darurat Obstetri-Ginekologi & Obstetri-Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC.
Pernoll, Martin L. benson, Ralph C. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: P.T. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

Life In Love Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review